Kesulitan menghafal kerap menjadi tantangan bagi pelajar maupun mahasiswa. Di mana, sudah mengulang-ulang materi, tetapi hasilnya tetap saja cepat lupa, terutama menjelang ujian. Padahal, kemampuan mengingat sangat menentukan performa belajar. Baik saat menguasai rumus, istilah ilmiah, atau kosa kata bahasa asing. Beruntung, ada teknik yang terbukti ampuh membantu otak bekerja lebih efisien dalam menyimpan informasi, yaitu metode spaced repetition.

Mengenal Metode Spaced Repetition
Spaced repetition atau pengulangan bersela adalah teknik belajar dengan cara mengulang materi pada jarak waktu tertentu, sehingga bukan terus-menerus dalam satu waktu. Prinsip dasarnya bermula dari penelitian Hermann Ebbinghaus, seorang psikolog asal Jerman yang menemukan adanya kurva lupa (forgetting curve). Lebih tepatnya, kecenderungan manusia melupakan informasi secara bertahap setelah belajar.
Menurut Ebbinghaus, otak akan kehilangan sebagian besar informasi dalam hitungan hari jika tidak diulang. Namun, bila pengulangan berlangsung pada waktu yang tepat, informasi tersebut akan semakin kuat tersimpan pada memori jangka panjang.
Dari konsep inilah, lahir metode spaced repetition yang kini digunakan di berbagai platform belajar modern. Beberapa diantaranya Anki, Quizlet, atau Duolingo. Aplikasi-aplikasi tersebut secara otomatis mengatur kapan sebuah informasi harus diulang berdasarkan seberapa baik pengguna mengingatnya.
Cara Menerapkan Teknik Spaced Repetition
Meski sederhana, metode ini membutuhkan sistem dan kedisiplinan. William Jakfar dalam video Short miliknya, membagikan trik memulai teknik belajar pengulangan bersela.
Menurut William Jakfar, seseorang perlu memecah materi besar menjadi bagian kecil seperti istilah penting, rumus, atau kalimat kunci. Cara tersebut membantu otak memproses informasi dalam porsi yang lebih ringan. Buat kartu belajar dengan dua sisi. Satu sisi berisi pertanyaan, sedangkan sisi lain jawabannya. Contohnya, sisi depan “Apa rumus luas lingkaran?”, sisi belakang “πr²”. Selain itu, bisa memakai media kertas atau aplikasi digital seperti Anki yang otomatis menghitung jadwal pengulangan. Setelah itu, atur jadwal pengulangan secara bertahap. Misalnya, ulang materi setelah 1 hari, lalu 3 hari, kemudian 7 hari, dan seterusnya. Setiap kali berhasil mengingat dengan benar, jarak pengulangan bisa diperpanjang.
Jangan lupa senantiasa menandai bagian yang sulit diingat oleh otak untuk mengulangnya lebih sering. Hal ini membuat nantinya waktu belajar menjadi lebih efisien karena fokus pada hal-hal yang benar-benar perlu perhatian khusus.
Kunci utama metode spaced repetition adalah konsistensi. Tidak perlu lama, cukup 10–15 menit per hari asal melakukannya terus menerus. Setiap minggu, tinjau ulang hasilnya agar tahu kemajuannya.
Keuntungan Teknik Spaced Repetition
Spaced repetition memberikan berbagai manfaat yang membuat proses belajar menjadi lebih efisien dan menyenangkan. Berikut sejumlah keuntungannya.
- Pertama, teknik ini menghemat waktu karena seseorang tidak perlu belajar lama setiap hari. Cukup mengulang sebentar secara teratur, otak akan lebih mudah mengingat informasi dalam jangka panjang.
- Metodenya membantu menghindari efek lupa cepat. Karena pengulangan berlangsung tepat sebelum otak benar-benar lupa, memori akan semakin kuat setiap kali proses belajar berlangsung.
- Spaced repetition membantu seseorang fokus pada kelemahan, bukan hanya mengulang semua materi tanpa arah.
- Selain itu, metode ini juga dapat meningkatkan rasa percaya diri. Ketika menghadapi ujian, seseorang tak perlu panik menghafal semalaman. Pengetahuan yang telah terulang berkala akan muncul secara alami di kepala.
- Terakhir, spaced repetition sangat fleksibel. Metode ini bisa untuk mempelajari hampir semua hal. Mulai dari kosa kata bahasa asing, istilah medis, hukum, rumus matematika, hingga hafalan Al Qur’an.
Keunggulan Spaced Repetition vs. Rote Learning
Untuk memahami keunggulan teknik spaced repetition, penting membandingkannya dengan rote learning atau metode hafalan biasa. Ini mengarah pada cara mengulang-ulang materi terus-menerus dalam satu waktu.
Pada rote learning, fokusnya adalah menghafal cepat, biasanya menjelang ujian. Seseorang membaca dan mengulang materi berkali-kali dalam waktu singkat agar tetap ingat hingga hari ujian. Sayangnya, informasi yang masuk justru cepat hilang, karena otak tidak sempat memprosesnya ke memori jangka panjang.
Berbeda dengan itu, spaced repetition bekerja secara bertahap. Materi masuk dengan jarak waktu yang semakin panjang sesuai tingkat penguasaan. Otak mendapat waktu melupakan sedikit, lalu mengingat kembali. Hasilnya, memori menjadi lebih kuat dan tahan lama.
Secara keseluruhan, belajar cerdas jauh lebih penting daripada belajar keras. Metode spaced repetition menawarkan cara sederhana, tetapi justru menjadi alternatif praktis. Bagi pelajar, mahasiswa, atau profesional yang ingin mempertahankan pengetahuan jangka panjang, teknik ini patut diandalkan. /Fitri